Beranda | Artikel
Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?
9 jam lalu

Ramadan menjadi bulan penuh motivasi beramal. Semua bentuk motivasi terkumpul di dalamnya:

  1. Motivasi ganjaran dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ;
  2. Keadaan lingkungan yang mendorong untuk beramal;
  3. Rentang waktu ringkas yang membuat alokasi tenaga terukur;
  4. Waktu bonus dan istimewa seperti 10 hari terakhir dan lailatul qadar;
  5. Predikat takwa yang disematkan kepada lulusan madrasah Ramadan.

Semua hal tersebut memotivasi kita untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalan. Namun, banyaknya pintu kebaikan justru menuntut kita untuk menentukan skala prioritas dalam beramal. Energi kita terbatas, waktu kita terbatas, maka kita perlu mengalokasikan kapabilitas diri kita kepada amalan yang paling bermanfaat bagi diri kita. Maka, pertanyaan yang sangat relevan adalah, “Apa amalan terbaik di bulan Ramadan?”

Sejatinya, jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah tunggal. Amalan terbaik di bulan Ramadan bisa beragam bagi semua orang. Sebagaimana Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan amalan paling utama dengan banyak pilihan jawaban. Nabi ﷺ menjawab sesuai kapasitas dan potensi orang yang bertanya. Sehingga amalan utama tidak harus sama antara satu sama lain. Sebagaimana jawaban Imam Malik rahimahullah ketika dikritisi tentang dirinya yang sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah mahdhah, beliau berkata,

أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَسَّمَ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ

“Sesungguhnya Allah ﷻ itu membagi amal (ibadah) sebagaimana Allah membagi rezeki.” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 114)

Maka, amalan terbaik adalah amalan yang paling bisa kita maksimalkan sesuai potensi diri kita.

Amalan terbaik tentu saja dapat kita klasifikasikan berdasarkan level perintahnya. Amalan wajib lebih utama dari amalan sunah. As-Suyuthi rahimahullah membawakan kaidah dalam masalah ini,

الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ

“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunah.”

Jangan sampai kita tertipu dengan amalan yang tidak lebih utama daripada yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

“Siapa saja yang tersibukkan dengan amal yang wajib dari yang sunah, dialah orang yang patut diberi uzur. Sedangkan siapa saja yang tersibukkan dengan yang sunah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)

Syekh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa salah satu jebakan setan adalah menyibukkan manusia kepada amal yang sunah daripada yang wajib. Hal ini bersesuaian dengan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Syekh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjadi kewajiban seorang muslim untuk memulai dengan melakukan kewajiban yang mesti dijalankan oleh dirinya. Baru kemudian, ia melakukan yang sunah yang ia inginkan. Karena setan ingin sekali manusia melakukan amalan sunah dan membuatnya meremehkan amalan yang wajib.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1: 678)

Tidak meninggalkan amalan sosial

Sebagian orang di bulan Ramadan memiliki syubhat bahwasanya amalan yang utama di Ramadan adalah amalan yang fokus kepada diri sendiri. Landasannya adalah praktik para salaf yang katanya benar-benar berfokus pada tiga amalan pribadi, seperti salat, membaca Al-Quran, dan tafakur.

Nabi ﷺ justru menjadi orang yang paling dermawan di bulan Ramadan. Kedermawanan Nabi ﷺ atas segala kebaikan, artinya bukan hanya harta saja, tetapi segala perbuatan bermanfaat bagi orang lain. Terlalu banyak riwayat yang menjelaskan bahwa baginda Nabi ﷺ justru semakin semangat beramal sosial di bulan Ramadan.

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ

“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berakhir ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu dermawan melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitupula hal ini menjadi pendapat fikih dari para ulama dan merekomendasikannya kepada umat, salah satunya Imam Asy-Syafii rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab rahimahullah.

Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,

أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم

“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ dikarenakan manusia pada bulan tersebut memiliki banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat sehingga tidak fokus terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)

Baca juga: Tanda Diterimanya Amal di Bulan Ramadan

Kombinasi amalan istimewa

Teladan yang bisa menjadi solusi atas pertanyaan “apa amalan terbaik di Ramadan?” adalah menggabungkan keseluruhan amal utama di dalamnya. Nabi ﷺ sendiri melaksanakan salat tahajud dengan bacaan Al-Quran secara tartil, berdoa setiap menjumpai ayat rahmat dan azab, sehingga beliau menggabungkan antara salat, membaca Al-Quran, doa, dan tafakur.

كان النبي صلى الله عليه وسلم يتهجد في ليالي رمضان ويقرأ قراءة مرتلة لا يمر بآية فيها رحمة إلا سأل ولا بآية فيها عذاب إلا تعوذ فيجمع بين الصلاة والقراءة والدعاء والتفكر وهذا أفضل الأعمال وأكملها في ليالي العشر وغيرها والله أعلم

Nabi ﷺ pun biasa salat pada malam-malam bulan Ramadan, membaca Al-Quran dengan tartil (tenang penuh penghayatan). Beliau tidak melewatkan ayat rahmat, kecuali memohon rahmatnya; dan tidaklah beliau melewatkan ayat tentang azab, kecuali beliau memohon perlindungan darinya. Dengan demikian, beliau menggabungkan salat, bacaan Al-Quran, berdoa, dan tafakur. Inilah amalan terbaik dan paling sempurna selama sepuluh malam terakhir Ramadan dan pada waktu-waktu lainnya. Wallahu a’lam. (Lathaiful Maarif, hal. 204)

Dan perkara-perkara ini dapat berkumpul semuanya di bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, seorang mukmin sedang berpuasa, malamnya melaksanakan salat malam. Mereka juga bersedekah dan bertutur kata baik, sebab orang yang sedang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan yang sia-sia dan kotor.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji/cabul dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kombinasi puasa, salat, dan sedekah dapat mengantarkan pelakunya ke surga

Seorang salaf berkata,

الصلاة توصل صاحبها إلى نصف الطريق والصيام يوصله إلى باب الملك والصدقة تأخذ بيده فتدخله على الملك

“Salat mengantarkan pelakunya hingga pertengahan jalan. Puasa mengantarkannya ke pintu Sang Raja. Dan sedekah yang menarik tangannya masuk menemui Sang Raja.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)

Tiga kombinasi amal ini adalah karakter dari sahabat utama Nabi ﷺ, yakni Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar lantas berkata, “Saya.” “Siapa di antara kalian yang hari ini ikut mengantar jenazah?”, tanya beliau kemudian. Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau lanjut bertanya, “Siapa di antara kalian yang sudah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian bersabda, “Tidaklah semua kebaikan itu berkumpul pada diri seseorang, kecuali ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028)

Kombinasi amalan ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanam

Menggabungkan puasa dan sedekah lebih efektif dalam menghapuskan dosa, melindungi diri, serta menjauhkannya dari neraka jahanam, terlebih apabila ditambah salat malam. Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,

الصيام جنة

“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari no. 1894)

Dalam hadis Muadz, Nabi ﷺ bersabda,

الصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار وقيام الرجل من جوف الليل

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Begitu juga salatnya seseorang di pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi no. 2619, hadis hasan shahih)

Maksudnya adalah salat malam juga dapat memadamkan dosa seseorang, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ahmad.

Dalam sebuah hadis sahih, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

اتقوا النار ولو بشق تمرة

“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah setengah buah kurma.” (HR. Bukhari no. 1417)

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور صوموا يوما شديدا حره لحر يوم النشور تصدقوا بصدقة لشر يوم عسير

“Salatlah dua rekaat di tengah kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur; berpuasalah di hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kiamat; berikanlah sedekah untuk menghadapi kesulitan di hari yang berat itu.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)

Mutiara hikmah

Riwayat di atas menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ dan para salaf tidak membatasi diri dengan satu dua amalan selama bulan Ramadan. Mereka mengkombinasikan amalan istimewa di bulan Ramadan, bahkan mendorong untuk lebih maksimal berkontribusi kebaikan kepada orang lain. Pandangan yang membatasi bahwa amalan utama di bulan Ramadan hanyalah amalan pribadi adalah pandangan yang kurang tepat. Banyak riwayat yang menunjukkan justru Nabi ﷺ semakin aktif menebar kebaikan di bulan Ramadan. Belum lagi praktik para salaf yang justru banyak tilawah Al-Quran dan mengajarkannya.

Di satu sisi, semua amalan tersebut dikombinasikan dengan amalan pribadi yang harus ditekankan juga. Jangan sampai karena sibuk berkontribusi sosial, sehingga tidak ada waktu untuk menepi berdoa dan salat malam. Padahal, ini adalah momentum bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala.

Semoga risalah yang singkat ini dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita hamba-Nya yang berhasil meraih predikat takwa pasca Ramadan.

Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Artikel ini banyak diambil dari kitab Lathaiful Maarif karya ulama besar Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah yang telah mengumpulkan riwayat sebagai panduan memaksimalkan bulan Ramadan.


Artikel asli: https://muslim.or.id/112358-apa-amalan-terbaik-di-bulan-ramadan.html